Jumat, 13 Maret 2020

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID KSATRIA MADURA DAN BEBERAPA PUISI LAINNYA

Moh. Ghufron Cholid
KSATRIA MADURA

sebab hidup bukan soal bertahanbertahan dan bertahanberlari menggenggam impiancara lain menaklukkan ketakutancara lain memperlakukan harga diri paling rupawan

Junglorong, 27 Maret 2017

Moh. Ghufron Cholid
MENYIASATI SENYUM
Menapaki jalan terjal menujumu, istriku. Aku kerap terjatuh. Aku
pasir-pasir didekap ombak
Senyummu meneguhkanku. Perisai segala badai. Kau, anugerah. Rekatkan
aku pada sajadah
Menyiasati senyummu, istriku. Aku sepoi dalam desir. Payung dalam
derah hujan. Aku bahagia

Junglorong, 2016

Moh. Ghufron Cholid
MATA KASIH TERATAI

Berulangkali mata kasihmu
Menyeleksi yang pernah bertamu
Ke hatimu
Ke kamar impian
Berulangkali kau, terdiam
Mengeja dentum

Malam telah tiba, teratai
Kelam, tak selamanya merias hati

Biar, biarkan mata kasihmu tak pejam
Barangkali semesta hendak bicara
Cinta yang tak menipu

Seperti air yang kerap mengalir
Biarkan cinta berdesir
Dalam debarmu, dalam debarmu

Kelak, mata kasihmu
Akan kehilangan lekuk airmata
Sebab cinta telah bertamu
Menyalami batinmu

Junglorong, 29 Maret 2017

Moh. Ghufron Cholid
TENTANGMU DI KAMAR HATIKU
: Rusliana Rmr

bila kukisahkan pada laut
kecintaanmu pada kesenian
debur mengecup-kecup pasir
mengukur debar

bila kukisahkan pada angin
daun-daun berayuan-ayun
melukiskan keakraban

kukabarkan kisah persahabatan
langit mengirim hujan
menumbuhkan pohon-pohon harapan

kau, akak sekaligus sahabat
seperti tangkai setia
menjaga keseimbangan bunga

Junglorong, 29 Maret 2017

Moh. Ghufron Cholid
SURGA SEORANG PENULIS
: Siti Sara Salwana

kukabarkan percik-percik bahagiamu
pada burung-burung yang melintasi samudra
sampai dunia membaca
surga penulis: melahirkan anak-anak cahaya
tumbuh bersama ridha
Allah, maha purna

Junglorong, 29 Maret 2017

Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986 M. Tamat SDN Blega 03 (1999), tamat SLTPN 01 Blega (2002), tamat TMI AL-Amien Prenduan (2006), menyelesaikan S1nya di IDIA Prenduan Fak. Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Penerima Anugerah Kedua Hescom 2015 Vlog dan Rubaiyat (5 Desember 2015) di Malaysia, Juara 2 esastera kritikan cerpan sumpahan karya Prof Irwan Abu Bakar (Esastera, 2016), juara 2 esastera kritikan deklamasi puisi karya Prof Irwan Abu Bakar (Esastera, 2016). Menulis puisi, pantun, cerpen dan esai tersiar di Mingguan Malaysia, Mingguan Wanita Malaysia, Mingguan WartaPerdana, Daily Ekspress, Tunas Cipta, Utusan Borneo, Utusan Malaysia, New Sabah Time, Bali Post, Radar Surabaya dll juga terkumpul dalam berbagai antologi terbit di dalam dan luar negeri. Buku puisi terbarunya Menemukan Allah (Pena House, 2016). Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. Hp 087850742323.

-terbit di Nusantara.co, 2017

DUA PUISI MOH. GHUFRON CHOLID (Terbit di Litera.co, 22 Juni 2017)


Moh. Ghufron Cholid
PERJALANAN RESTU
: Farrohah Ulfa

Aku tak pandai merayu,
istriku
Namun degupmu
Takkan kubiarkan berlalu

Kelak, bila tiba kembara
Nama dan kisah kita
Kukabarkan pada semua

Sebab kau, istriku
Aku, suamimu
Kita satu dalam restu

Paopale Daya, 2 Ramadhan 1438 H

Moh. Ghufron Cholid
SEPENGGAL KISAH YANG TAK PERNAH KHATAM
: Para Penyair Festival Puisi Bangkalan

di kedalaman doa
    kita pernah mengeja
cahaya aulia

   jiwa begitu gemetar
menatap debar
   jiwa yang dihidupkan
zikir

kita pernah jadi bagian
   saksi mata yang
ditumbuhi keberkahan
   kekasih pilihan, gugur
di jalan Tuhan
   kerap hidup di mata
di doa
     dan kedalaman bathin

di sini, di aeng mata ebhu
kita tak pernah
benar-benar asing
kita dieratkan ikatan maha
sayang

perjalanan pulang
   rindang kenang
kita, petualang
  yang disatukan restu
maha sayang

mata tak saling cerita
   dalam doa
kita saling bicara
   mengeja setia


Junglorong, 4 Ramadhan 1438 H

Biodata Penulis
Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986. Menulis puisi, cerpen, pantun dan esai serta melukis. Karya-karyanya tersiar di banyak media massa. Penerima Anugerah Kedua Hescom2015 Vlog dan Rubaiyat (5 Desember 2015) di Malaysia, juara 2 esastera kritikan deklamasi puisi karya Prof Irwan Abu Bakar (Malaysia, 2016), juara 2 esastera kritikan cerpan sumpahan karya Prof Irwan Abu Bakar (Malaysia, 2016) dll.  Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura.Hp 087850742323

4 PUISI MOH. GHUFRON CHOLID (HALUAN PADANG, 11 JUNI 2017)

Moh. Ghufdron Cholid
RISALAH DAUN

Akulah daun
   Liriklah, lihatlah aku
Daunku yang hijau
   Mula ilmu
Daunku yang kuning
    Kadar sayang
Daunku yang cokelat
    Matang khidmat

Akulah daun
Liriklah, lihatlah aku
Bergelantung di ranting yakin
Kelak, aku gugur
     Menandai debar
Mengecup tanah
     Puncak segala istirah

Al-Amien Prenduan, 20 Juli 2016

Moh. Ghufron Cholid
MENGECUP LANGIT CINTA

Allahku, biar kukecup langit cinta
    Langit yang hanya berias percaya
Langit yang hanya menyemat setia
   Langit ridha
Yang mampu memalingkan mata dari segenap duka

Allahku, ada yang tak henti meraung
: sukmaku yang bimbang
Bimbing aku, kecup langit cinta
Langit yang asri
     Membinarkan nurani

Al-Amien Prenduan, 20 Juli 2016


Moh. Ghufron Cholid
LAUT DIAM
: Nelayan

Gelombang yang datang
Teman berjuang
Jalan sembahyang

Pulang berlayar
Akulah laut diam
Memedam pitam

Al-Amien Prenduan, 20 Juli 2016


Moh. Ghufron Cholid
RISALAH PERANTAU

Menjadi perantau, kasihku
Betapa rindu tak henti memburu
Betapa kampung halaman berdegup dalam ingatanku
Memanggil-manggilku pulang
Menyubur gigil rinduku
    Di detak rantauku

Menjadi perantau, kasihku
Ada yang tak henti bertarung dalam sukmaku
Kadang aku dikuasai jenuh
Kadang nafasku berias tabah

Menjadi perantau, kasihku
Caraku mengenal diri terdalam
Caraku menaklukkan binalku
Caraku membahagiakanmu
Merawat senyummu

Kelak, bila aku pulang
Sambut aku dengan senyummu
Dekap aku dengan tangan cintamu

Al-Amien Prenduan, 2016

4 PUISI MOH. GHUFRON CHOLID (Terbit di Nusantaranews.co, 21 Mei 2017)


Oleh-oleh Penyair Selepas Kembara

Sebab penyair juga manusia
Juga punya keluarga
Oleh-oleh adalah hal musykil disangkal
Sebagai manusia
Penyair juga mengabadikan nama-nama
Menyebutnya dalam diksi dan doa
Memang tak mampu mengenyangkan
Namun mampu membahagiakan
Penyair dengan puisinya
Bertugas menyeimbangkan cinta
Dan bahagia
Pulang ke rumah
Puisi tetap ramah
Menyapa ruh

Moh. Ghufron Cholid
Madura, 2017

KECINTAAN PENYAIR

Kecintaan penyair
Menghentikan anyir
Lewat puisi yang jadi zikir

Moh. Ghufron Cholid
Madura, 2017

MATA CINTA SEORANG GURU

Mata doa
Selalu terjaga
Membinarkan jiwa
Anak-anak cahaya
Yang diasuhnya

Moh. Ghufron Cholid
Madura, 2017

GENERASI DOA

Generasi yang tak pernah memungut airmata
Saudara dan moyangnya

Moh. Ghufron Cholid
Madura, 2017

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID MATA KEKASIH DAN BEBERAPA PUISI LAINNYA (RADAR SURABAYA, 1 Mei 2016)



Moh.GhufronCholid
MATA KEKASIH

inimataku, kekasih
mata yang tulus
mata yang takmembius

tatapmataku, kekasih
mataku; rumah
tempatmuberteduh

inimataku, kekasih
masuk, masuklahseutuh
senyummu yang rekah

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
AKULAH SENJA YANG RANUM

akulah senja yang ranum
bergegas, bergegaslahkaupulang
cukupkantualang
teguk, tegukakusepenuhsenyum
barangkalipitam
di matadanhatimu
taklagimenderu
hatimu, taklagiseteru
Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
ANUGERAH TERINDAH

kurundukkanlangitresah
takkankubiarkanangingundah
betahdalamtubuh
dalamruh
dan kubiarkan tatap mahabbah
menembus sukmamu
menyingkirkan benalu
dalam dirimu
sebab kau
anugerah terindahku

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
KELAK PERJUMPAAN TIBA

redam, redamlahlajurindu
biarkanmengalirbersamawaktu

kelakperjumpaantiba
bibirku, manismadu
kankulumatsegalapilu
yang bersarang di jiwamu

Biar, biarlah bibir restu
basah.Sampai hadirmu lengkapi nafasku

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
PENGABDIAN

kutandai kau
dalam tiap debar
dalam tiap zikir
sebab kau
imamku

kutandai kau
dalam tiap senyumku
kusambut hadirmu
sepenuh cintaku

menetap, menetaplah
dalam kamar ibadah
: cintaku
aku, rumahmu
selepas kau pulang

Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
MALAM YANG RUNCING

malam, runcing
anginmenukarkenang

bulan, berlayarpelan
tegaskanpergantianrindu
hati yang pilu
: tabah yang kalah
padaletih yang rintih

malam, runcing
hilangbentuk
saatkeningmubegitukhusyuk
penandasembahyang
Junglorong, 2016

Moh.GhufronCholid
DENGAN APA HARUS KUNAMAI

dengan apa harus kunamai
detak yang begitu murni
seperti air terjun
tak pernah ragu menentukan pilihan
semisal laut
begitu piawai taklukkan gelombang kemelut

dengan apa harus kunamai
detak yang begitu murni
selaksa mentari tak letih
menumbuhkan kehidupan baru
tanpa tunduk pada hujan pun kemarau

Junglorong, 2016

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID DI KOMPAS.COM (29 DESEMBER 2012)

Moh. Ghufron Cholid
TENTANG PENYAIR DARI TIMUR

Penyair dari timur
Penyair tegak antara desir dan zikir
Aksara-aksara akur bukan sihir
Tumbuhkan tafakur

Penyair dari timur
Pada yang paling keranda
Sisipkan segala adalah fana
Selain pencipta

Penyair dari timur
Selaksa air mengalir
Hayutkan batang-batang getir
Hingga hilir paling zikir
Kamar Cinta, 2002-2012

Moh. Ghufron Cholid
BERTEDUH DI BENING MATA IBU

Berteduh di bening matamu, ibu
Rindu ketuk pintu batinku

Garis-garis senja di wajahmu rapi
Kasihmu tak pernah purba dan menepi

Berteduh di bening matamu
Betapa nikmat kurasakan surga restu

Topan resahku
Tak lagi bertamu

Kamar Cinta, 1993-2012

Moh. Ghufron Cholid
BULAN DI PRENDUAN

Bulan di Prenduan
Tenenun harapan
Tiba jadwal kencan
Ia sambut dengan senyuman

Kamar Cinta, 2002-2012

Moh. Ghufron Cholid
HUJAN SAAT PILKADA
: Junglorong*

Saat PILKADA
Hujan begitu ceria
menjadi saksi mata

Kamar Cinta, 12 Desember 2012
* sebuah dusun yang memiliki kecamatan Kedungdung Kab. Sampang, kental nuansa pesantren

Moh. Ghufron Cholid
317

Tak ada yang istimewa
Selain angka yang menjadi saksi mata
Tentang jalan cahaya
Tentang wisuda anak-anak matahari
Tak ada yang istimewa
Selain angka yang menjadi penanda
Segala airmata
Segala doa
Telah tunai dalam sabda dharma
Tak ada yang istimewa
Selain angka yang menjadi jiwa
Kebersamaan surga cinta
Yang paling menggoda mata jiwa

Kamar Hati, 17 Desember 2012

Sumber http://oase.kompas.com/read/2012/12/29/17590367/Puisi-puisi.Moh.Ghufron.Cholid

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID DI MAKAM SUNAN GIRI DAN BEBERAPA PUISI LAINNYA (RADAR SENI, 8 Desember 2012)

Moh. Ghufron Cholid
DI MAKAM SUNAN GIRI

Di makam Sunan Giri
Berguguran daunan benci
Menatap nisan penuh nurani
Hujan doa guyur tak henti
Aku ragu mampukah nisanku seperti nisanmu
Terlukis rapi kearifan budi
Dalam mengabdi pada Ilahi
Semoga keraguan terobati
Kelak ketika aku mati

Kamar Hati, 2000-2012

Moh. Ghufron Cholid
MEMAKNAI SENYUM

Senyummu
Obat seribu luka di dada waktu
Di tiap desah nafasku
Yang tak kuberi tahu

Kamar Hati, 2004-2012

Moh. Ghufron Cholid
SEMOGA AIRMATA TAK LAGI MEMINANG GAZA

Seumur pelangi
Tangismu pecahkan langit sunyi

Belum lama berkencan harapan
Kau telah menjadi nisan

Memandangmu
Basahlah gurun haru dalam dadaku
Semoga airmata
Tak lagi meminang Gaza

Kamar Hati, 2012

Moh. Ghufron Cholid
IA YANG BERNAMA REMY SYLADO

Ia yang bernama Remy Sylado
Penyuka hitam-putih warnanya
Ramah orangnya
Bersahaja sikapnya

Malam mengantar sunyi
Segala menjadi puisi
Tandai jejak abadi
Kebersamaan perekat hati

Embun matanya teduhkan batin
Berkenalan dengannya
Menjabat aksara-aksaranya
Seumpama nikmati krupuk renyah rasanya

Kamar Hati, 2011-2012

Moh. Ghufron Cholid
DI MAKAM SUNAN AMPEL

Berpasang mata saling mencari jawaban
Kebenaran firman Tuhan

Mata takjub menuntun
Kabarkan batin

Makam Sunan Ampel tak pernah sepi
Bergemalah doa-doa menembus langit nurani
Lalu aku mengerti
Yang gugur di jalanNya tetap hidup dalam diri hamba Ilahi

Kamar Hati, 1995-2012

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID TERBIT DI RADAR SENI (17 NOVEMBER 2012)

Moh. Ghufron Cholid
SEBAIT PUISI BUAT R HAMZAH DUA

Sebab karya
Tanda kita masih bernyawa
Mari kita berkarya
Bila berwajah nisan
Aksara-aksara rapatkan barisan
Bercerita detak kehidupan
Yang pernah kita kekalkan

Kamar Hati, 11 November 2012


Moh. Ghufron Cholid
TENTANG ANAK JALANAN DI LAMPU MERAH II

Seumpama pahlawan
Menukar maut demi kemerdekaan

Kamar Hati, 11 November 2012

Moh. Ghufron Cholid
TENTANG SUNGAI DI MATAMU

Sungai di matamu
Sungai rindu
Hanyutkan kenangan
Alirkan harapan
Seumpama ibu melahirkan
Mencipta kebahagiaan

Kamar Hati, 8 November 2012


Moh. Ghufron Cholid
TENTANG KESEHATAN

Kesehatan
Surga yang lain
Yang terlupakan
Memikat mata batin
Saat raung sakit dera badan

Kamar Hati, 11 November 2012

Moh. Ghufron Cholid
TENTANG JAMBI DAN TAMAN PUISI IV

Aroma puisi
Seumpama kasturi
Jambi semakin wangi
Terpikatlah segala hati
Jambi selaksa permaisuri

Kamar Hati, 11 November 2012

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID TERBIT DI KOMPAS.COM 28 MEI 2012

Moh. Ghufron Cholid
BOCAH-BOCAH BERHATI BAJA

Bocah-bocah Berhati Baja
bocah-bocah mencari airmatanya sendiri
membatikkan badai pada tiap sunyi
yang semakin suburkan perih hati
di tiap desah hari

bocah-bocah tak menyerah
selalu ada keyakinan diasah
setelah senja
mentari menyapa dalam cahaya gelora

Kamar Hati, 26 Mei 2012

Moh. Ghufron Cholid
Dalam Gugur Daun

Dalam gugur daun
Ia sampaikan isyarat kefanaan
Kematian begitu karib
Tak bisa diterka mata nasib

Kamar Hati, 26 Mei 2012

Moh. Ghufron Cholid
PEREMPUAN MEI YANG MENJADI PENGANTIN PUISI

Mei tak mesti api
Mei itu aku, pengantin puisi

Kamar Hati, 26 Mei 2012

Moh. Ghufron Cholid
SEBARIS DOA UNTUK NEGERI

TUHAN, jangan jadikan kuburan

Kamar Hati, 26 Mei 2012

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID KHULUQ

Moh. Ghufron Cholid
KHULUQ

Takkan pernah sampai khuluqku
Kecup mahabbahMu
Saat aku, debu
Berdansa ikut irama angin

Takkan pernah sampai khuluqku
Gapai haqqul yakin
Saat aku, basah
Tenggelam dalam laut resah

Takkan pernah sampai Khuluqku
Takkan pernah Sampai
Saat aku, nurani
Padam, sepanjang desah waktu

Jakarta, 3 Sepetember 2013
(mahrajan ke-2 di Malaysia)

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID MERAWAT CINTA, MENGENALKAN IBU DAN KETULUSAN

Moh. Ghufron Cholid
MERAWAT CINTA

alpa langit lupa bumi
mata sayu lautlah daku
masa lalu tiba lara
letup ingat kamu tamu

suka kamu mata cinta
benci kamu mata duka
satu tubuh satu jiwa
satu suka satu syurga

laki laku lika liku
rasa tumbuh suka utuh
kamu tiba dalam kalbu
duka lari raib letih

hati hati asah rasa
kuat duga kuasa lara
mata duga kuat duka
rawat cinta purna bahagia

Madura, 13 Oktober 2014

Moh. Ghufron Cholid
MENGENALKAN IBU

ibu tempat bertapa segala
musim yang berganti rupa
dalam dada yang dharma
terlerai luka sepanjang usia

ibu tempat mengurai seluruh
asa cipta rasa tersepuh
sejarah rona berbinar sukma
sirna duka bertamu bahagia

ibu mata doa segala
masa lalu kini nanti
matahari rebah berkerlingan senja
menidurkan angkuh dalam diri

ibu mula cinta tiba
saat restu Esa tapa
masa suka masa duka
ibu guru segala usia

Madura, 13 Oktober 2014

Moh. Ghufron Cholid
KETULUSAN

Hari belum tua ketika kau menyemai ketulusan dan menanam biji cahaya
Sepi yang merajam tak sanggup sembunyikan segala
Selalu ada musim berganti menempati hati
Ketulusan senantiasa pijar walau dalam hidup yang paling lumpur
Selalu saja getir berulang ketika hatimu yang karang
Masih mampu tersenyum dalam duka yang paling dupa

Aku telah menerima kabar tentang pilihan berlari membawa segenap debar
Tak terhitung berapa banyak daun waktu gugur
Yang aku ingat ketulusan selalu mawar dalam ingat paling getir

Madura, 15 Oktober 2014
-terbit di Sastra Harian Cakrawala, 18 Oktober 2014

ANAK-ANAK GARAM DAN DUA PUISI LAINNYA DI SASTRA HARIAN CAKRAWALA (SABTU, 4 OKTOBER 2014)

Moh. Ghufron Cholid
ANAK-ANAK GARAM

kami anak-anak garam
mimpi dan darah kami asin
merantau, madura
tak henti berdegup dalam jiwa

kami anak-anak garam
selalu asin, asin dan asin
meski di tanah rantau
meski di tanah
rantau

Madura, 2014

Moh. Ghufron Cholid
KESAKSIAN HATI

menganyam mimpi
menepikan rindu
takkan pernah mampu
tanpaMu, Ilahi

menepikan sunyi
menggali diri
takkan pernah bisa
tanpaMu, pemilik hati

menepikan mati
menumbuhkan mimpi
takkan pernah kuasa
tanpaMu, duhai pemilik jiwa

Madura, 2014

Moh. Ghufron Cholid
KESAKSIAN YANG PURNA

yang merasuk ke dada
duka yang kenanga
yang merasuk ke mata
rekah mawar doa
yang merasuk ke sukma
yang merasuk ke yakin
segala abadi: Tuhan

Madura, 2014

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID DI BULETIN MANTRA, OKTOBER 2014

Moh. Ghufron Cholid
TERINGAT KAKEK

langit begitu murung
ketika harapmu rebah
di kebun mahabbah
ketika, kau yang pejuang
berwajah nisan, penanda kemesraan kencan
dan bumi, kehilangan nyala cinta
dari jiwamu yang bening

Madura, 2014

MEMPELAI SEJARAH DAN MENGENANG GAJAH MADA



Moh. Ghufron Cholid
MEMPELAI SEJARAH 

pahlawan kaulah mempelai sejarah
padamu, aku berguru
mengasah ketajaman batin
mengasah pengabdian
di segenap desah

Madura, 27 Oktober 2014

Moh. Ghufron Cholid
MENGENANG GAJAH MADA 

mengenang gajah mada
mengenang nusantara
seruh, seraga

dalam sumpah palapa
kita satu airmata
satu merdeka
nusantara

Madura, 2014

MERUMUSKAN ALAMAT PENGERTIAN DAN ANAK-ANAK WAKTU


Moh. Ghufron Cholid
MERUMUSKAN ALAMAT PENGERTIAN

telah kurumuskan alamat pengertian
telah kuabai peluk keterasingan
yang aku mau
kilau binar matamu
tak lagi mengisahkan ngilu pilu waktu

telah aku rumuskan alamat pengertian
sampai batas penantian
memastikan rupa waktu lebih ceria
hingga aku lupa tatapan mata duka

Taman Ismail Marzuki, 1 Juni 2014


Moh. Ghufron Cholid
ANAK-ANAK WAKTU

Kami anak-anak waktu
Tak pernah usai diburu peluru
Tak adakah mata haru
Tangan haru
Kalbu haru
Beri kesempatan cicipi madu
Ketenangan, kemerdekaan
Ini bulan suci
Tempat jernihkan hati
Ke manakah nurani berlari

Tak tahukah kau
Kematian lebih karib
Dari sesuap nasi
Tak tahukah kau
Kami, anak-anak waktu
Juga mau hidup sepertimu
Setenang telaga kalbu
Secerah matahari mencumbu
Semesra hujan menghumuskan tanah pengabdian

Madura, 10 Juli 2014
-terbit di Denpos, 26 Oktober 2014-

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID TERBIT DI NEW SABAH TIME (22 JULI 2012)


PUISI MOH. GHUFRON CHOLID TERBIT DI UTUSAN BORNEO 18 MEI 2014


TERKENANG PENYAIR MAROCO DAN SERIBU HARI KESUNYIAN

Moh. Ghufron Cholid
TERKENANG PENYAIR MAROCO
: Fatimah Bennis

selalu ada percakapan ombak
ketika pangkor jadi sajak
malam yang begitu karib
gugurkan dedaun gusar

selalu ada percakapan ombak
pada segenap ingat
yang melamar malam
dari keterasingan yang nisbi

ada yang tak bisa berlalu
lentik waktu
ketika coral bay
meliput haru

kita, impian yang saling mencari
wangi puisi

Madura, 28 Oktober 2014

Moh. Ghufron Cholid
SERIBU HARI KESUNYIAN

nisan, kamar pulang
telah sampai
seribu hari kesunyian
rindu, tak pernah benar-benar berlari
padamu, paman

2014
-terbit di Sastra Harian Cakrawala Makassar (22 November 2014)

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID ANGIN YANG SAMA

Moh. Ghufron Cholid
ANGIN YANG SAMA
Ini angin yang sama
Menyalami jiwa begitu mesra
Membuka kembali lembaran masa
Tempat kita mengeja
Airmata
Tempat kita menerjemahkan
Doa

Ini angin yang sama
Bawa kabar duka
Kau daun gugur dari ranting
Kecup tanah sembahyang
Lalu berwajah nisan
Memusiumkan harapan

Ini angin yang sama
Bumi kuyup doa
Hari pemakaman penuh ridha
Namamu bergema di kamar jiwa
Berkat ikhlasmu berdharma


Madura, 26 Januari 2014

TIGA PUISI MOH. GHUFRON CHOLID DALAM BUKU SANG PENEROKA


Moh. Ghufron Cholid
DOA YANG BERJALAN
: Kurniawan Junaedhie

enam puluh tahun doa berjalan
mencari istijab
merayapi keraguan
menginsafi ketakberdayaan
menyalakan api pengabdian

aksara-aksara rapatkan barisan
membentuk peradaban
mengakarkan kebudayaan
sepanjang tanah perjuangan

enam puluh tahun doa berjalan
ibarat daun telah menguning
selaksa purnama mengencani kamar remang-remang
bimbang tak datang
segala semakin benderang

Madura, 2014

Moh. Ghufron Cholid
KISAH HATI SEORANG SABBY

telah kau tanam cinta begitu megah
melepas kepergian dengan hamdalah
tabah begitu tumbuh
di matamu
di hatimu
sabby

telah kau tancapkan tiang anugerah
kepergian buah hati
kau maknai sebagai titipan
yang sudah habis puncak percaya
dan kau
jadi mata doa buat buah hatimu
sabby

betapa pohon kagum
rindang, di mataku
di hatiku
ketika kau letakkan kematian
tanda cinta Tuhan
yang paling anggun
kesabaran, begitu mengakar di hatimu
sabby

Madura, 25 Agustus 2014
Sabby nama seorang rekan yang sudah saya anggap saudara dari Malaysia,
begitu tabah melepas kepergian (kematian) buah hatinya.

Moh. Ghufron Cholid
LANGIT YANG GUGUP

kabar dari seberang
menyemat linang
kepergianmu, merindang kenang

tak mampu tegak di batas sabar
ada belukar gusar
menjalari tubuh, aku gemetar

kematian telah mendekap
langit dalam tubuhku, gugup
doa-doa kubariskan
semoga tenang di pembaringan

Madura, 22 Agustus 2014
(terbit di Indonesia untuk mengenang ultah KJ 60, 2014)

DUA PUISI MOH. GHUFRON CHOLID TERBIT DI KONFRONTASI

Moh. Ghufron Cholid
MASIH TENTANG PERU
:Shasha Shakierah

shasha, keterasingan menepi
kau tinggalkan kamar-kamar nyeri

peru, puisi
mimpi dan cinta
yang menempati dada

sebab impian mesti dijemput
keterasingan terus kau rajam
sebab peru degup waktu
degup puisi
ada yang tak henti kau gali
keyakinan dalam diri

peru, puisi
mimpi dan cinta
yang menempati dada
tak pernah kau biarkan
sunyi menerkam keyakinan

peru, puisi
seruh, setubuh
yang menguatkan
yakin
menguatkan masa depan
yang penuh keberkahan

shasha, hanya doa
yang bisa kuberikan
semoga duka
tak menempati dada
tak menyayat sukma
semoga peru
melahirkan kalbu
yang baru
yang penuh restu

Madura, 6 November 2014

Moh. Ghufron Cholid
KALAU AKU TAK SAMPAI DI PERU

kalau aku tak sampai di peru
lihatlah langit masih biru
sebiru hatimu
menghidupkan puisi
menghidupkan nurani

kalau aku tak sampai di peru
percayalah, puisi takkan mati
percayalah
nurani akan tetap wangi
sebab hati kita
selalu bertemu dalam doa

Madura, 5 November 2014
-terbit di konfrontasi, 6 November 2014-

Kamis, 12 Maret 2020

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID KAMAR USIA DAN DUA PUISI LAINNYA

KAMAR USIA
: Ulfatun Ni'mah Cholid

memasuki kamar usia yang baru, adikku
ada yang semakin akrab bertamu
angin haru
mengingatkan rupa masa lalu

ada yang berganti lagu
hatimu
gigil waktu yang membentukmu karang
telah pun sampai pada utuh sembahyang
lalu, kau alpa
pada bidak-bidak duka
yang pernah merapatkan barisan
menghantam keyakinan

memasuki kamar usia yang baru, adikku
sama artinya kau tinggalkan debu-debu ragu
membersihkan hatimu
menatap hidup lebih maju
atau serupa kupu yang telah tinggalkan kepompong waktu

Madura, 14 Juli 2014

MEMBINGKAI RINDU

membingkai rindu
pada debur yang getarkan kalbu
pada pepasir waktu
yang mengajarkan keakraban zaman
ada yang belum tuntas diurai
nyeri yang belum terlerai
percik-percik tabah yang telah terkulai

membingkai rindu
pada akar waktu yang mengingatkan sendu
ada yang merayapi kalbu
ragu
yang belum menyusu
pada kearifan
yang menumbuhkan pohon ketabahan

membingkai rindu
pada renda matamu
yang tak pijar
hanya menambah getir
pada tiap bibir zikir

membingkai rindu
barangkali telah sampai waktu
keharibaan duhai Maha Kasih
betapa riuh
masih mendiami tubuh
resah masih kuat memeluk
saat rahmah tak singgah

perempuan yang dikepung rindu
tak jua mampu
taklukkan kalbu

sejatinya hidup mengantri kematian
seberapa siap pertemuan
diterjemahkan dalam kemesraan

membingkai rindu
barangkali hanya kesetian
yang mampu merajam segenap ketakutan

2014

GAZA

telah kau lamar iman
peluru, meriam dan bom
tak merundukkan langit yakin

sebab kematian
lebih getarkan batin
melebihi menikahi perawan
syuhada jadi impian paling pikat hati zaman

Gaza
Kau bumi syuhada
Peluh, airmata dan regang nyawa
Tanda cinta sepanjang masa

Madura, 10 Juli 2014
-terbit di konfrontasi, 16 Juli 2014-

PUISI MOH. GHUFRON CHOLID HUTAN SUNYI DAN DUA PUISI LAINNYA

HUTAN SUNYI

menyusuri hutan sunyi
mengakrabi diri tak bertepi
ada yang semakin berwajah nyeri
ada yang menemukan bentuk haqiqi
yang manusia: fana
yang esa: sempurna

Madura, 26 November 2014

MENYOAL KAMAR HATI

adakah kamar di hatimu
menyemai biru-sedu
yang ranum dari pepadi waktu

adakah kamar di hatimu
mengurai hijau daun
yang membuat segala jalan
menuju bahagia
hingga alamat-alamat duka
yang pernah jadi peta

Madura, 26 November 2014

KEPADA KAWAN BERWAJAH DUKA
: Jumali

bertahun-tahu, ceritamu tertelan
angin pertemukan berwajah duka

menyepuh tualang duhai kawan
dedaun rindu berguguran

kepulangan kerap menandai waktu
dalam debar gerutu

percayalah duhai kawan
waktu, masih bicara ketabahan
menyeleksi seberapa tahan
keikhlasan menempati badan

kematian, tamu yang dirahasiakan
seberapa siap bergegas bermusyahadah
Allah

kau, aku adalah kafan
yang menunggu antrian kencan

Madura, 25 November 2014
-terbit di Sastra Harian Cakrawala, 6 Desember 2014-

TIGA PUISI MOH. GHUFRON CHOLID DI UTUSAN BORNEO

PERJALANAN AIRMATA
: Tragedi AirAsia

ia yang menjemput cita
pulang berkerudung airmata

ia yang teguh genggam yakin
pulang membawa buah pengabdian

Madura, 2015

MENCARI LEZAT IMAN

antara impian dan kematian
bermukim keberkahan

antara doa dan perjuangan
menetap lezat iman

Madura, 2015

PANGKALANBUN

cinta menemukan rupa
doa

Madura, 2015
-terbit di Utusan Borneo Malaysia (1 Februari 2015)

TIGA PUISI TERBIT DI SASTRA HARIAN CAKRAWALA MAKASAR (27 DESEMBER 2014)


HELENA DAN PUISI

Helena sebab puisi
Lagu paling sepi
Beningkan hati
diksi-diksi perkenalkan diri
bunga-bunga api
melahap nyeri

2014

MENGENANG ACEH DALAM TSUNAMI

aceh dalam tsunami
airmata yang tak henti mencari
letak Ilahi

2014

PANGGIL AKU IBU

ketika tak ada
yang tersayat
saat kau bermata duka
panggil aku ibu
setia memalingkan mata ragu
dari kerling mata waktu

2014

Dalam Buku 1000 Haiku Indonesia

SALAM PERPISAHAN

tergugur daun
di bumi basah doa
ajal menyapa

JALAN CINTA

doa bergema
getarkan arsy
satukan hati: nikah

DZIKIR BERGEMA

dzikir mendenyar
malam hidup menyala
duka tersingkir

RISALAH HUJAN

menampung hujan
tertingkap jeda luka
degup, mengungkap

DEGUPAN CINTA

bumi merekah
mata bulan merona
degupan cinta

PENYAIR YANG DITUMBUHI DUKA

pagi yang luka
airmata tak reda
kata tersayat

JEMBATAN

penyambung hidup
air mengalir tenang
lintasan harap

SISI PENYAIR

susun aksara
penyair wakil Tuhan
urai misteri

MELUKIS MALAM

malam yang hening
bulan di celah ranting
purna ciptaan

RISALAH PEJUANG

mengemas mimpi
bertarung lawan diri
nyeri menepi

*) Terpilih dan dimuat dalam buku 1000 HAIKU
INDONESIA

MOH. GHUFRON CHOLID Lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Karya- karyanya tersebar di berbagai media cetak dan online. Puisi-puisinya terkumpul dalam berbagai antologi baik cetak maupun online, seperti Mengasah Alief, Epitaf Arau, Akar Jejak,Jejak Sajak, Menyirat Cinta Haqiqi, Sinar Siddiq, Ketika Gaza Penyair Membantah, UnggunKebahagiaan, Anjung Serindai, Dari Negeri Poci 4, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter, Indonesian, PoemsAmong the Continents, dll. Domisili Madura.

TIGA PUISI MOH. GHUFRON CHOLID DI BUKU PUISI JAKARTA DAN BETAWI 3

  JAKARTA DALAM SEBUAH TUALANG Ibu bagi petualang Adalah kau, Jakarta Di dadamu, yang bidang Berpusat kasih sayang Rupamu yang baru Madu wak...